Halo!
Saya, Helena, kembali lagi. Kali ini saya akan membahas tentang pengertian manusia, pengertian hakekat manusia, kepribadian bangsa timur, pengertian unsur-unsur kebudayaan, wujud kebudayaan, orientasi nilai budaya, perubahaan kebudayaan, juga kaitan manusia dan kebudayaan.Manusia
Sebagai seorang manusia, sudah sepantasnya memahami apa itu arti manusia yang sesungguhnya. Akan tetapi, kenyataan masih banyak sekali orang yang tidak memahami makna dan arti kata manusia.
Secara bahasa, manusia berasal dari kata "manu" (Sansekerta), "mens" (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah, manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.
Dalam sejarah, homo berarti manusia. Manusia juga dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna karena memiliki:
- Harkat, yaitu harga diri.
- Martabat, yaitu kedudukan sebagai manusia.
- Derajat, yaitu sesuatu yang perlu kita cari berdasarkan kedudukan.
Manusia juga memiliki daya jiwa, yaitu:
- Cipta, yaitu sifat kreatif manusia dengan ciptaannya selalu mencari hal-hal yang baru dan belum pernah ada.
- Rasa, yaitu dorongan dalam diri manusia untuk mencari keindahan rasa, oleh sebab itu dengan daya ciptanya membentuk berbagai macam, manifestasi jasa di dalam seni.
- Karsa, yaitu suatu kehendak kodrat untuk mengabdikan diri pada kekuasaan yang tertinggi. Jadi ingin tahu dari mana asalnya manusia dan akan kemana kembalinya.
Nah, untuk membantu mempelajari makna dan arti kata manusia yang sebenarnya, kita dapat menggunakan beberapa pendapat para ahli mengenai definisi kata manusia, berikut ini:
Pengertian Manusia menurut Para Ahli
- Paula J. C. dan Janet W.K
Manusia merupakan makhluk yang terbuka, bebas memilih makna di dalam setiap situasi, mengemban tanggung jawab atas setiap keputusan, yang hidup secara berkelanjutan, serta turut menyusun pola hubungan antara sesama dan unggul multidimensional dengan berbagai kemungkinan.
- Omar Mohammad Al-Toumi Al-Syaibany
Manusia adalah makhluk yang mulia. Manusia merupakan makhluk yang mampu berpikir, dan manusia merupakan makhluk tiga dimensi (badan, ruh/roh, dan kemampuan berpikir/akal). Manusia di dalam proses tumbuh kembangnya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor keturunan dan faktor lingkungan.
- Kees Bertens
Manusia adalah setiap makhluk yang terdiri dari dua unsur yang satunya tidak dapat dinyatakan dalam bentuk apapun.
- Upanisads
Manusia merupakan sebuah kombinasi dari beberapa unsur kehidupan seperti roh (atman), pikiran, jiwa, dan prana (tubuh/fisik).
- Nicolaus D. dan A. Sudiarja
Manusia adalah bhineka, akan tetapi tunggal. Manusia disebut bhineka karena ia mempunyai jasmani dan rohani, sedangkan disebut tunggal karena hanya berupa satu benda/barang saja.
- Abineno J. I
Manusia adalah "tubuh yang dilengkapi dengan jiwa/berjiwa" dan bukan "jika abadi yang berada ataupun yang terbungkus di dalam sebuah tubuh/badan yang fana/tidak nyata".
- Sokrates
Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki dua kaki, yang tidak berbulu, dan memiliki kuku datar berukuran lebar.
- I Wayan Watra: Manusia merupakan makhluk yang dinamis yang menganut trias dinamika, yaitu cipta, karsa, dan rasa.
- Erbe Sentanu
Manusia merupakan makhluk sebaik-baiknya yang diciptakan oleh Tuhan. Bahkan, dapat dikatakan manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk ciptaannya yang lain.
- Agung P. P.
Manusia dapat diartikan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, yang tersusun atas kesatuan fisik, ruh/jiwa, dan akal pikiran yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan lingkungannya.
Manusia merupakan makhluk yang terbuka, bebas memilih makna di dalam setiap situasi, mengemban tanggung jawab atas setiap keputusan, yang hidup secara berkelanjutan, serta turut menyusun pola hubungan antara sesama dan unggul multidimensional dengan berbagai kemungkinan.
Manusia adalah makhluk yang mulia. Manusia merupakan makhluk yang mampu berpikir, dan manusia merupakan makhluk tiga dimensi (badan, ruh/roh, dan kemampuan berpikir/akal). Manusia di dalam proses tumbuh kembangnya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor keturunan dan faktor lingkungan.
Manusia adalah setiap makhluk yang terdiri dari dua unsur yang satunya tidak dapat dinyatakan dalam bentuk apapun.
Manusia merupakan sebuah kombinasi dari beberapa unsur kehidupan seperti roh (atman), pikiran, jiwa, dan prana (tubuh/fisik).
Manusia adalah bhineka, akan tetapi tunggal. Manusia disebut bhineka karena ia mempunyai jasmani dan rohani, sedangkan disebut tunggal karena hanya berupa satu benda/barang saja.
Manusia adalah "tubuh yang dilengkapi dengan jiwa/berjiwa" dan bukan "jika abadi yang berada ataupun yang terbungkus di dalam sebuah tubuh/badan yang fana/tidak nyata".
Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki dua kaki, yang tidak berbulu, dan memiliki kuku datar berukuran lebar.
Manusia merupakan makhluk sebaik-baiknya yang diciptakan oleh Tuhan. Bahkan, dapat dikatakan manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk ciptaannya yang lain.
Manusia dapat diartikan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, yang tersusun atas kesatuan fisik, ruh/jiwa, dan akal pikiran yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan lingkungannya.
Hakekat Manusia
Pengertian Hakikat Manusia
Hakekat Manusia adalah sebagai berikut:
- Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
- Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif, mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
- Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang, tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
- Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik unruk ditempati.
- Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudannya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tidak terbatas.
- Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
- Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
Kepribadian Bangsa Timur
Kepribadian bangsa timur dapat diartikan sebagai suatu sikap yang dimiliki oleh suatu negara yang menentukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan. Kepribadian bangsa timur pada umumnya merupakan kepribadian yang mempunyai sifat toleransi yang tinggi. Di dunia bangsa timur dikenal sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat.
Bangsa timur identik dengan benua asia yang penduduknya sebagian besar berambut hitam, berkulit sawo matang ataupun berkulit putih, bermata sipit. Sebagian besat cara berpakaian orang timur lebih sopan dan tertutup, menjunjung tinggi nilai-nilai norma yang berlaku. Namun, sekarang banyak orang timur meniru kebiasaan orang barat yang mana bertentangan dengan kebiasaan orang timur, yang dapat mempengaruhi kejiawaan orang timur.
Pada umumnya, kepribadian bangsa timur adalah sangat terbuka dan toleran dengan bangsa lain selama masih sesuai dengan norma, etika serta adat istiadat yang ada.
Kita tidak sepantasnya menilai bahwa bangsa timur lebih baik daripada bangsa barat, karena mau bangsa timur maupun bangsa barat memiliki nilai yang positif maupun negatif.
- Hospitality, ramah dan sopan serta mudah bersosialisasi dengan bangsa lain.
- Hardworking, tidak mudah menyerah, rajin dan bersungguh-sungguh saat melakukan sesuatu.
- Religious and Well-Cultured, keterikatan dengan adat dan budaya menjadikan pembatas individu bangsa timur untuk mencapai potensi maksimalnya.
- Respect for Elders, menjunjung tinggi norma kesopanan.
- Diligent, dikenal pekerja keras dan rajin menyebabkan bangsa ini dikenal cerdas dan pantang menyerah.
- Attached to Norms, cenderung judgemental menyangkut hal-hal yang bertentangan dengan norma.
- Strong Family Ties, sangat bergantung pada keluarga, merupakan faktor utama dalam hal pertimbangan banyak hal, seperti urusan jodoh dan karir.
Unsur-Unsur Kebudayaan
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur budayaan, antara lain sebagai berikut:
- Alat-Alat Teknologi.
- Sistem Ekonomi.
- Keluarga.
- Kekuasaan Politik.
Bronislaw Malinowski, mengatakan empat unsur pokok kebudayaan, meliputi:
- Sistem Norma Sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya.
- Organisaasi Ekonomi.
- Alat-alat, dan Lembaga-Lembaga atau Petugas-Petugas untuk pendidikan (Keluarga adalah lembaga pendidikan utama).
- Organisasi Kekuatan (Politik)
C. Kluckhohn, mengemukakan ada tujuh unsur kebudayaan secara universal (Universal Categories of Culture), yaitu:
- Bahasa.
- Sistem Pengetahuan.
- Sistem Teknologi dan Peralatan.
- Sistem Kesenian.
- Sistem Mata Pencaharian Hidup.
- Sistem Religi.
- Sistem Kekerabatan, dan Organisasi Kemasyarakatan.
Wujud Kebudayaan
Menurut J. J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga, yaitu: gagasan, aktivitas, dan artefak
- Gagasan (Wujud Ideal)
Kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak, yaitu tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan, dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. - Aktifitas (Tindakan)
Suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan. - Artefak (karya)
Wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktifitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan, kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur, dan memberi arah kepada tindakan (aktifitas) dan karya (artefak) manusia.
Sedangkan menurut Koentjaraningrat, wujud kebudayaan dibagi menjadi nilai budaya, sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik.
- Nilai-Nilai Budaya
Gagasan-gagasan yang telah dipelajari oleh warga sejak usia dini, sehingga sukar diubah. Gagasan ini kemudian menghasilkan berbagai benda yang diciptakan oleh manusia berdasarkan nilai-nilai, pikiran dan tingkah lakunya. - Sistem Budaya
Bersifat abstrak, hanya dapat diketahui dan dipahami, berpola dan berdasarkan sistem-sistem tertentu. - Sistem Sosial
Pola-pola tingkah laku manusia yang menggambarkan wujud tingkah laku manusia yang dilakukan berdasarkan sistem. Bersifat konkret sehingga dapat diabadikan. - Kebudayaan Fisik
Wujud terbesar dan juga bersifat konkret. Misalnya bangunan megah seperti candi Borobudur, benda-benda bergerak seperti kapal tangki, komputer, piring, gelas, kancing baju, dan lain-lain.
Orientasi Nilai Budaya
Atau yang bisa juga disebut sebagai sistem nilai budaya adalah konsep-konsep yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat yang berkaitan dengan apa yang diinginkan, pantas, dan berharga, yang mempengaruhi individu yang memilikinya dan berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
Menurut Koentjaraningrat, sikap mental (attitude) merujuk pada individu dan nantinya secara sekunder kepada masyarakat. Sikap merupakan suatu disposisi atau keadaan mental seseorang untuk bereaksi terhadap lingkungannya.
Menurut C. Kluckhohn, dalam bukunya yang berjudul "Variations in Value Orientation" menyatakan bahwa sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia sebenarnya mengenai lima masalah pokok dalam kehidupan manusia.
![]() |
| Lima Masalah Dasar Yang Menentukan Orientasi |
Dimodifikasi dari Pelly, Meskipun cara mengkonsepsikan lima masalah pokok dalam kehidupan manusia yang universal itu sebagaimana yang tersebut diatas berbeda-beda untuk setiap masyarakat dan kebudayaan, namun dalam tiap lingkungan masyarakat dan kebudayaan tersebut lima hal tersebut diatas selalu ada.
Sementara itu, Koentjaraningrat telah menerapkan kerangka Kluckhohn diatas untuk menganalisis masalah nilai budaya bangsa Indonesia, dan menunjukkan titik-titik kelemahan dari kebudayaan Indonesia yang menghambat pembangunan nasional. Kelemahan utama antara lain mentalitas meremehkan mutu, mentalitas suka menerabas, sifat tidak percaya kepada diri sendiri, sifat tidak berdisiplin murni, mentalitas suka mengabaikan tanggung jawab.
Perubahan Kebudayaan
Perubahan yang terjadi dikarenakan adanya ketidaksesuaian terhadap unsur-unsur budaya. Perubahan terjadi karena adanya ketidakserasian terhadap fungsi yang ada pada kehidupan. Seiring berkembangnya zaman, perubahan kebudayaan terjadi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Faktor Terjadinya Perubahan Kebudayaan
Faktor Internal
- Perubahan Demografis. Mencakup perubahan ukuran struktur dan distribusi penduduk. (Contoh: Kelahiran, Kematian, juga Imigrasi).
- Adanya penemuan baru, baik ide ataupun alat, dapat juga menyempurnakan penemuan baru tersebut dan memperbaharui ataupun mengganti yang ada.
- Adanya konflik sosial di dalam masyarakat. Dengan adanya konflik sosial, maka dapat merubah suatu kepribadian orang yang ada pada bagian masyarakat tersebut. (Contoh: seseorang yang tiba-tiba menjadi pendiam, tidak mau bersosialisasi dengan orang lain).
- Adanya pemberontakan, salah satu faktor perubahan kebudayaan pada struktur pemerintahan.
Faktor Eksternal
- Peperangan, maka akan terjadi perubahan unsur-unsur budaya pada suatu negara baik dalam unsur ekonomi, sistem pengetahuan, teknologi, bahasa, kesenian ataupun sistem kemasyarakatan.
- Pengaruh Budaya Lain, terjadi pada masyarakat terbuka karena dapat lebih mudah menerima adanya unsur budaya lain. Adanya hubungan antara dua bangsa yang dapat saling mempengaruhi seperti terjadinya akulturasi, difusi (penyebaran kebudayaan), juga proses bertemunya antar budaya yang menghasilkan suatu budaya baru akan tetapi tidak melihat budaya lama (asimilasi).
- Perubahan Alam, yaitu perubahan lingkungan fisik yang disebabkan karena bencana alam, misal gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, dan lain-lain. Dengan terjadinya suatu bencana alam, maka akan terjadinya banyak perubahan pada kehidupan seperti perpindahan tempat tinggal, maka mau tidak mau mereka harus saling menyesuaikan. Hal tersebut memicu terjadinya perubahan kebudayaan.
Kaitan Manusia dan Kebudayaan
Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun temurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari-hari dan juga dari kejadian-kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Secara sederhana, hubungan antara manusia dengan kebudayaan ketika manusia sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan tersebut merupakan objek yang dilaksanakan sehari-hari oleh manusia.
Di dunia sosiologi, manusia dengan kebudayaan di nilai sebagai dwitunggal, maksudnya walaupun keduanya berbeda tetapi merupakan satu kesatuan yang butuh, ketika manusia menciptakan kebudayaan dan kebudayaan itu tercipta oleh manusia.
Contoh-Contoh Hubungan Antara Manusia dan Kebudayaan
- Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan
Contoh: Adat istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau, biasanya pihak perempuan yang melamar, sedangkan di Lampung, pihak laki-laki yang melamar. - Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda (Urban and Rural Way of Life)
Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan anak yang dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya ssedangkan anak desa lebih mempunyai sikap percaya diri sendiri dan sikap menilai (Sense of Value). - Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial
Di masyarakat, dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial tinggi, menengah dan rendah. Misal cara berpakaian, etiket, pergaulan, bahasa sehari-hari, dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing kelas mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang tersendiri pula pada setiap individu. - Kebudayaan khusus atas dasar agama
Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang berbeda-beda di kalangan umatnya. - Kebudayaan berdasarkan profesi
Contoh: Kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang pengacara, dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara mereka bergaul.
Contoh: Seorang militer mempunyai kepribadian yang sangat erat hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga sudah biasa berpindah-pindah tempat tinggal.
Daftar Pustaka
Cassirer, Ernst. Diindonesiakan oleh Alois A. Nugroho. 1990. Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.
Dardiri, Achmad. 2005. URGENSI MEMAHAMI HAKEKAT MANUSIA. Yogyakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1954/1985. Materi Dasar Pendidikan Program Akta Mengajar V. Jakarta: Universitas Terbuka Depdikbud.
der Wij, P. A. van. 1991. Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
Dirto Hadisusanto, dkk. 1995. Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Fakultas Ilmu Pendidikan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yogyakarta.
Dr. Sumantri, Muhammad S. M,Pd. 2015. Hakikat Manusia dan Pendidikan. Yogyakarta.
Drijarkara, N. 1969. Filsafat Manusia. Jogjakarta: Penerbit Jajasan Kanisius.
Leahy, Louis. 1989. Manusia Sebuah Misteri: Sintesis Filosofis tentang Makhluk Paradoksal. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.
Piedade, Joao Inocencio. 1986. "Problematika Manusia dalam Antropologi Filsafat" dalam Basis. Edisi Oktober-1986-XXXV-10.
Sastrapratedja, M. 1982. Manusia Multi Dimensional: Sebuah Renungan Filsafat. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.
Sumitro, dkk. 1998. Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Yogyakarta,
Umar Tirtarahardja da La Sulo. 1994. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jendral Tinggi Depdikbud.

Comments
Post a Comment